Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (276)

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Rabu, 13 Desember 2023 | 09:00 WIB
Cover Cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)
Cover Cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)

Begitulah Su Yong-wi lantas membawa kedua pihak menuju ke lapangan berlatih di dalam taman bagian belakang.

Ilmu pedang Bu-tong-pay termashur di seluruh jagat, tapi sekarang ke empat jago muda Bu-tong-pay justru akan bergabung untuk menghadapi dua lawan yang tak terkenal asal usulnya, tentu saja para tetamu sama heran.

Dengan sendirinya mereka pun tidak melewatkan kesempatan bagus ini untuk menyaksikan pertandingan seru ini, maka berbondong-bondong para tamu lantas ikut ke taman.

Bu-tong-si-hioa ambil posisi mengepung, lalu Kiau Goan-cong berkata, “Hayolah kalian mulai dulu, memangnya mau tunggu apa lagi?”

Dia yakin pihaknya pasti akan menang, maka sengaja berlagak bermurah hati membiarkan pihak lawan menyerang lebih dulu.

Dalam pada itu Ci In-hong telah mengedipi Kok Ham-hi, lalu Kok Ham-hi mengerut kening, tapi segera mengangguk tanda setuju.

“Hm, kalian jangan main sandiwara, mulailah lekas!” ejek Goan-cong.

“Sebenarnya maksud Suhengku hendak mengampuni jiwamu, lantaran kau sembarangan mengoceh, maka kukatakan terus terang padamu,” jawab Kok Ham-hi.

“Nah, sekarang terimalah serangan kami!”

Berbareng Kok Ham-hi berdua lantas melolos pedang, di tengah sambaran pedang disertai pula pukulan, sepasang pedang dan dua tangan serentak menyerang sekaligus.

Sinar pedang berkelebat, angin pukulan menderu, dalam jarak seputar beberapa meter berjangkitlah sambaran angin yang kuat hingga para penonton terpaksa melangkah mundur.

“Hm, Thian-lui-kang kalian bisa berbuat apa terhadapku?” jengek Goan-cong, walaupun demikian tidak urung pedangnya yang menusuk ke arah Kok Ham-hi terguncang menceng juga oleh tenaga pukulan Ci In-hong berdua.

Kok Ham-hi cukup kenal kelicikan dan kesempitan jiwa Kiau Goan-cong yang sukar diinsyafkan akan kesalahannya, ia pikir tangkap penjahat harus tangkap kepalanya, asal orang she Kiau ini tertawan, tentu barisan pedang mereka akan kacau balau sendiri.

Tapi tak terpikir olehnya bahwa sebabnya Kiau Goan-cong berani pimpin ketika sutenya untuk mencari balas padanya, dengan sendirinya merekapun yakin akan kemenangan di pihaknya.**

(Bersambung)

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X