Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (276)

photo author
Dedy Tri Riyadi, Tinemu
- Rabu, 13 Desember 2023 | 09:00 WIB
Cover Cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)
Cover Cerbung Pahlawan Padang Gurun (Playground AI)

Maka Kiau Goan-cong lantas berkata, “Sembelih ayam tidak perlu pakai golok jagal, kami berempat orang Bu-tong-pay ada permusuhan dengan orang she Kok ini, maka kami siap menggantikan Su-loenghiong untuk menyelesaikan urusan ini.”

“Baik, boleh kau katakan caranya!” seru Kok ham-hi.

“Kami berempat ada saudara seperguruan, begitu pula kalian berdua, maka kebetulan kita boleh coba-coba menentukan pihak siapa yang lebih unggul,” kata Goan-cong.

“O,jadi maksudmu kalian berempat hendak menandingi kami berdua,” jengek Ham-hi. “Bagus, inipun sangat adil sekali.”

Muka Kiau Goan-cong menjadi merah, katanya pula, “Kau adalah musuh umum Bu-tong-pay kami, tak dapat kami bicara tentang peraturan kangouw dengan kau.”

“Bagus, orang Bu-tong-pay memang paling mengutamakan keadilan,” jengek Kok Ham-hi.

“Tapi ada sesuatu kami ingin tahu dengan pasti. Umpamanya, jika pertandingan nanti kami yang kalah, maka kami akan pasrahkan nasib kepada kalian. Tapi sebaliknya kalau beruntung kami yang menang, lalu bagaimana? Apakah kami harus bertempur lagi melawan Su-loenghiong dan murid-muridnya?”

“Hm, janganlah kau terlalu menghina diriku,” kata Su Yong-wi dengan gusar.

“Dengan kepandaian apa kalian mampu mengalahkan Bu-tong-si-hiap?” Tapi bila kalian benar-benar sanggup lolos dibawah pedang ke empat jago muda Bu-tong-pay, maka aku pasti akan membuka pintu lebar-lebar dan mengantar keberangkatan kalian dengan hormat.”

Kiranya Su Yong-wi tadi sudah merasakan betapa lihainya Thian-lui-kang, ia merasa tidak yakin akan dapat mengalahkan Ci In-hong berdua, sebab itulah Ia lebih suka membiarkan Bu-tong-si-hiap menanggung urusan ini.

Menurut perkiraannya, dengan gabungan kekuatan empat pendekar muda Bu-tong-pay itu tentu akan dapat menang.

“Bagus, beginilah persetujuan kita,” kata In-hong.

“Tapi di sini bukan tempat pertandingan yang baik.”

“Ya, kita boleh keluar sana agar tidak merusak ruangan pesta Su-loenghiong,” kata Thio Goan-kiat.

Diam-diam Kok Ham-hi heran mengapa lawannya itu begitu garang, padahal Goan-kiat pernah kalah di tangannya. Apa barangkali akhir-akhir ini lawannya itu berhasil meyakinkan sesuatu ilmu baru?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Memahami Filosofi Warna dalam Budaya Bali

Jumat, 17 April 2026 | 07:58 WIB

Puisi Hafiz Shirazi Lebih Berbahaya dari Filsafat?

Sabtu, 11 April 2026 | 18:29 WIB

'Warung Pocong', Ketika Komika Main Film Horor

Senin, 6 April 2026 | 14:18 WIB

'Pelangi di Mars', Kecantikan Visual yang Kosong

Senin, 16 Maret 2026 | 13:11 WIB

Cerpen: Kain Putih untuk Malam Terakhir

Jumat, 27 Februari 2026 | 22:58 WIB

'Titip Bunda di Surga-Mu' Tak Sekedar Mengharu Biru

Sabtu, 14 Februari 2026 | 12:49 WIB
X