Negara: Buku dan Dulu

photo author
Bandung Mawardi, Tinemu
- Selasa, 13 Februari 2024 | 18:30 WIB
Buku Ahli Pemikir Besar (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)
Buku Ahli Pemikir Besar (Koleksi Pribadi Bandung Mawardi)

Buku memuat beragam pemikiran dunia, bukan hasil pemikiran tokoh-tokoh Indonesia.

Kita mengutip: “Sesuai dengan adjaran Stoa, Cicero menganggap negara itu perlu adanja dan harus didasarkan pada budi manusia djadi tidak seperti kaum Epicurus jang menganggap itu sebagai buatan untuk kegunaan bagi anggota-anggotanja sadja.”

Pemikiran lama tapi masih saja dimunculkan dalam perkuliahan dan diskusi abad XXI.

Kini, kita dalam situasi pelik bertema pemilu. Orang-orang bertambah ribut tentang negara.

Baca Juga: Ulasan Buku F.Budi Hardiman : Ini Dia Skandal Demokrasi Kita

Keinginan memajukan dan memuliakan Indonesia melalui tata cara demokrasi justru membara dalam memahami negara.

Kita turut kelelahan jika mengikuti beragam pendapat. Negara tak semudah dimengerti saat kita membuka kamus-kamus.

Negara tak sekadar kalimat-kalimat tercantum dalam UUD 1945.

Kita mengutip lagi: “Tak dapat disangkal bahwa teori Hobbes berpokok pangkal pada oknum, akan tetapi ketjuali sang daulat, semua oknum dalam negara kehilangan kewenangan-kewenangan pribadi mereka. Karena itu pengertian Hobbes tentang kemerdekaan adalah aneh. Kemerdekaan tak dapat diartikan bahwa orang dapat bertindak menurut kesukaan hatinja. Sebab, undang-undang negara menghalang-halangi oknum melaksanakan kesukaan hatinja. Kemerdekaan hanja bertindak luas tidak ada larangannja dan ia mengenai sesuatu jang tidak dapat diserahkan dengan perdjanjian.”

Baca Juga: Abeliano Kisahkan Indahnya Cinta

Pada masa lalu, orang-orang membaca buku itu sambil mengingat dan menjadikan rujukan saat terlibat percakapan.

Keberanian memunculkan tokoh-tokoh tenar dan deretan pemikiran negara membuat orang-orang makin mengerti arah Indonesia.

Sengketa masalah bentuk negara terjadi di Indonesia tapi para tokoh ingin melestarikan mufakat: negara kesatuan.

Kita masih mengetahui ribut negara terjadi sampai sekarang. Para ahli tata negara tak bosan memberi keterangan-keterangan.

Kita membaca berita dan menonton televisi ikut belajar tentang negara. Di media sosial, tema itu membara tanpa ada tanda-tanda padam.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Teringat “Orang Politik”

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedy Tri Riyadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Malioboro, Tempat Rindu Berjalan Pelan

Senin, 13 April 2026 | 16:22 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tak Ada Keraguan

Jumat, 27 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ermy Kullit, All That Jazz!

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:33 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Gudang Garam dan Buku

Kamis, 26 Maret 2026 | 17:39 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Kota dan Pembaca

Kamis, 26 Maret 2026 | 16:17 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Menjual Lima Buku

Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:10 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Bacaan Bertambah

Sabtu, 21 Maret 2026 | 17:27 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Mewariskan Tulisan

Jumat, 20 Maret 2026 | 12:16 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jari dan Anak

Jumat, 20 Maret 2026 | 09:51 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Jawa Dibukukan

Kamis, 19 Maret 2026 | 17:48 WIB

Perang Dagang di Nusantara pada Masa Lalu

Kamis, 12 Maret 2026 | 10:52 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Radikal di Masa Kolonial

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:18 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Lima Halaman

Jumat, 6 Maret 2026 | 13:03 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Tulisan dan Tua

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:07 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Buku Sesuai Kurikulum

Rabu, 25 Februari 2026 | 12:53 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Puisi dan Penerbit

Rabu, 25 Februari 2026 | 11:29 WIB

Kolom Buku Belum Berlalu: Pertama dan Lengkap

Rabu, 25 Februari 2026 | 10:15 WIB
X