Buku memuat beragam pemikiran dunia, bukan hasil pemikiran tokoh-tokoh Indonesia.
Kita mengutip: “Sesuai dengan adjaran Stoa, Cicero menganggap negara itu perlu adanja dan harus didasarkan pada budi manusia djadi tidak seperti kaum Epicurus jang menganggap itu sebagai buatan untuk kegunaan bagi anggota-anggotanja sadja.”
Pemikiran lama tapi masih saja dimunculkan dalam perkuliahan dan diskusi abad XXI.
Kini, kita dalam situasi pelik bertema pemilu. Orang-orang bertambah ribut tentang negara.
Baca Juga: Ulasan Buku F.Budi Hardiman : Ini Dia Skandal Demokrasi Kita
Keinginan memajukan dan memuliakan Indonesia melalui tata cara demokrasi justru membara dalam memahami negara.
Kita turut kelelahan jika mengikuti beragam pendapat. Negara tak semudah dimengerti saat kita membuka kamus-kamus.
Negara tak sekadar kalimat-kalimat tercantum dalam UUD 1945.
Kita mengutip lagi: “Tak dapat disangkal bahwa teori Hobbes berpokok pangkal pada oknum, akan tetapi ketjuali sang daulat, semua oknum dalam negara kehilangan kewenangan-kewenangan pribadi mereka. Karena itu pengertian Hobbes tentang kemerdekaan adalah aneh. Kemerdekaan tak dapat diartikan bahwa orang dapat bertindak menurut kesukaan hatinja. Sebab, undang-undang negara menghalang-halangi oknum melaksanakan kesukaan hatinja. Kemerdekaan hanja bertindak luas tidak ada larangannja dan ia mengenai sesuatu jang tidak dapat diserahkan dengan perdjanjian.”
Baca Juga: Abeliano Kisahkan Indahnya Cinta
Pada masa lalu, orang-orang membaca buku itu sambil mengingat dan menjadikan rujukan saat terlibat percakapan.
Keberanian memunculkan tokoh-tokoh tenar dan deretan pemikiran negara membuat orang-orang makin mengerti arah Indonesia.
Sengketa masalah bentuk negara terjadi di Indonesia tapi para tokoh ingin melestarikan mufakat: negara kesatuan.
Kita masih mengetahui ribut negara terjadi sampai sekarang. Para ahli tata negara tak bosan memberi keterangan-keterangan.
Kita membaca berita dan menonton televisi ikut belajar tentang negara. Di media sosial, tema itu membara tanpa ada tanda-tanda padam.
Artikel Terkait
Teringat “Orang Politik”
Matematika dan Demokrasi
Pengunjung Kamus Lama