Gibran tak cuma menulis nama Spinoza. Ia pasti pembaca buku-buku filsafat.
Kita mengingat masa lalu: Gibran, Boston, dan lukisan. Ia berasal dari Lebanon, tinggal di Amerika Serikat.
Baca Juga: Cerbung : Pahlawan Padang Gurun (311)
Ingatan dituliskan: “Ketika aku masih amat muda, aku biasa mengunjungi Public Library (Boston) dan berdiri terpana di depan lukisan-lukisan. Hari ini aku sekali lagi berada di Boston… Tadi aku berdiri di depan lukisan-lukisan yang sama bersama kekasihku Miriam di sisiku. Di lukisan-lukisan itu, aku melihat suatu kecantikan yang belum pernah kulihat pada tahun-tahun yang lalu.”
Pengalaman berbeda di hadapan lukisan. Dulu, Gibran di situ sendiri. Pada masa dan situasi berbeda, ada perempuan di samping Gibran.
Pengalaman tak lagi sama dengan keterpukauan terdahulu. Gibran mengatakan: “Tapi, seandainya Miriam tidak berada bersamaku, aku tidak melihat apa-apa karena mata tanpa cahayanya hanyalah sekadar sebuah lubang pada wajah, tidak kurang, tidak lebih.”
Baca Juga: Laksamana Sukardi : Hukum di Indonesia Masih Dikuasai Kepentingan Politik
Gibran memberi kalimat mengejutkan. Lukisan sempurna dengan kehadiran dan tatapan perempuan.
Kita membuka buku berjudul Kahlil Gibran: Man and Poet (2000) susunan Suheil Bushrui dan Joe Jenkins.
Di Boston, Gibran mendapat pergaulan menggembirakan dengan kalangan pelukis. Ia biasa diajak mengunjungi galeri-galeri.
Ia makin keranjingan melukis setelah selesai dari pengembaraan di Paris. Boston menjadi tempat ia menunaikan hasrat melukis.
Pada suatu hari, Gibran membuat lukisan dipersembahkan kepada “kekasih”. Lukisan berjudul The Bebolder.
Baca Juga: DEATH- Anomali Dunia Musik Rock (Bag.2)
Sang perempuan mempelajari lukisan dan membuat tafsir empat halaman.
Gibran menikmati hari-hari membuat lukisan dengan kemunculan beragam tafsir.