temu-pande

Cegah Wabah Penyakit Mulut dan Kuku, Perketat Biosecurity Budi Daya Ternak

Senin, 30 Mei 2022 | 09:17 WIB
Pencegahan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) agar tidak menular ke ternak dapat dilakukan dengan memperketat biosecurity budi daya ternak. (litbang.pertanian.go.id)

TINEMU.COM - Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menyebar di beberapa provinsi di Indonesia. Penyakit hewan menular ini menyerang hewan berkuku belah/genap baik hewan ternak maupun hewan liar seperti sapi, kerbau, domba, rusa, onta, gajahdan lain-lain.

Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) disebabkan oleh virus tipe A dari family Picornaviridae dengan genus Apthovirus. Penyakit ini menular cepat dengan cara kontak langsung, menular melalui peralatan ternak/kandang dan diakhiri dengan lepasnya kuku sehingga hewan susah berdiri.

Salah satu upaya pencegahan agar penyakit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tidak menular ke ternak adalah melalui budi daya atau pemeliharaan ternak dengan baik yang diperketat dengan biosecurity.

Baca Juga: Karakteristik Ombak Kiri dan Tubular Pikat Surfer Dunia Datang ke Pantai Plengkung

Kepala Loka Penelitian Sapi Potong (Lolitsapi) Balitbangtan, drh. Dicky M. Dikman, M. Phill mengemukakan bahwa budi daya sapi dimulai dari manajemen pemeliharaan hingga manajemen kesehatan ternak.

“Pada dasarnya, manajemen budi daya dilakukan untuk menghasilkan ternak yang sehat. Hanya saja memang ada perlakuan khusus selama wabah PMK ini, terutama dengan pengetatan biosecurity,” kata Dikman seperti dikutip Tinemu.com dari laman litbang.pertanian.go.id pada Senin, 30 Mei 2022.

Pola pemeliharaan dapat dilakukan secara intensif, semi-intensif, dan ekstensif. Namun, budi daya ternak di daerah wabah PMK dianjurkan untuk menerapkan pola intensif yaitu dengan cara ternak dikandangkan serta kebutuhan pakan dan air minum disediakan.

Baca Juga: Tiongkok Kuno: Tempat Kelahiran Teh (Bagian 1)

“Untuk daerah wabah, kita arahkan sistem intensif untuk mengurangi risiko penularan melalui udara. Untuk pakan yang diberikan dapat berupa hijauan dan konsentrat yang disesuaikan dengan kebutuhan dan produksinya,” jelasnya.

Menurut Dikman, budi daya tersebut dapat diperketat dengan biosecurity sebagai upaya preventif penyebaran PMK.

Dikman menjelaskan bahwa biosecurity adalah segala upaya fisik dan tata laksana untuk meminimalkan risiko masuknya agen penyakit ke dalam peternakan, mencegah berkembangnya penyakit, serta mencegah keluarnya agen penyakit dari peternakan.

Baca Juga: Opini: Perlu atau Tidak Perlu Bersedih Akan Kekalahan Liverpool di Final Liga Champion 2021-2022?

Biosecurity itu vital, baik oleh peternakan rakyat ataupun peternakan perusahaan swasta. Untuk perkandangan, kita melakukan pengetatan personel yang keluar-masuk kandang. Kunjungan tamu atau kunjungan lainnya juga ditutup sampai wabah mereda,” ucapnya.

Dikman menjabarkan contoh implementasi biosecurity di Loka Penelitian Sapi Potong, Pasuruan, Jawa Timur. Pertama-tama diterapkan sistem one gate dan ditetapkan zona merah, zona kuning, dan zona hijau di perkandangan.

Halaman:

Tags

Terkini

Sourdough dari Beras Merah Segreng Handayani

Senin, 13 April 2026 | 09:43 WIB

Bisakah Video Profil Desa Dihargai Rp 0?

Senin, 30 Maret 2026 | 17:16 WIB

Takaran Saji Hidangan Manis Saat Lebaran

Senin, 16 Maret 2026 | 18:05 WIB

Pilihan Susu untuk Cukupi Gizi Anak di Bulan Puasa

Sabtu, 28 Februari 2026 | 16:22 WIB

Wajib Coba! 3 Kedai Inovatif Mahasiswa FEB UGM

Minggu, 22 Februari 2026 | 15:57 WIB