Sementara itu, karya film dokumenter pendek dan buku panduan bertajuk 24 Jam di Lembâna oleh Lembâna Artgroecosystem merupakan upaya pemetaan dimensi spasial dan temporal spesifik di tempat asal mereka di Sumenep, Jawa Timur.
Fikril Akbar dari Lembâna Artgroecosystem menyampaikan, “24 Jam di Lembâna penting bukan saja karena hendak melihat koreografi sebagai kerangka untuk melihat aspek-aspek geokultural Lembâna, tetapi juga sebagai moda riset untuk mempelajari, mendalami, dan memetakan pengetahuan mengenai kualitas keruangan Lembâna, berikut nilai yang beroperasi di dalamnya”.
Baca Juga: WIR Group Bersama Kadin Indonesia Hadirkan Kadinverse di Ajang B20
Karya lain asal Indonesia dalam proyek ini berjudul Interkoneksi: Koreografi Sensorium dan Gerak Sehari-hari yang diciptakan Enji Sekar dan sejumlah kolaboratornya yang berlatar belakang atau memiliki pengalaman dengan seni performans.
Karya ini berfokus kepada pengamatan koreografis terkait empat indra, yaitu indra pendengar, perasa, peraba, dan pencium, di pasar Demangan dan Pathuk di Yogyakarta.
“Kami memilih dua pasar tradisional berukuran sedang sebagai laboratorium kami dengan asumsi bahwa tempat tersebut adalah ruang yang muncul dari keragaman di mana pengalaman multisensori seharusnya diproduksi,” jelas Enji.
Baca Juga: Inilah Makna dan Filosofi Logo Hari Guru Nasional Kemenag 2022
"Para kolaborator diminta menjelajahi pasar dengan dipandu oleh pengalaman indrawi mereka dan kami mendorong mereka mencatat secara detail sambil terus mengidentifikasi apa yang mereka terima melalui indera mereka,” imbuhnya.
Selain dalam bentuk film dokumenter, temuan kelompok ini juga disajikan dalam wujud lapisan-lapisan peta. Peta kedua pasar dikombinasikan dengan berbagai peta indrawi berbeda sehingga menghasilkan visibilitas baru bagi orang dan barang yang tidak kasatmata.
Empat karya dari India
Dari India, proyek Abhijeet/Moodzi dan Srilakshmi yang dinamakan Social Dance Experiments in Ahmedabad dilakukan di berbagai tempat di Ahmedabad dan ruang-ruang publiknya.
Baca Juga: Gala Dinner G20 Indonesia, Sebuah Impresi
Mereka melibatkan diri dengan beragam sektor masyarakat dan menyaksikan bagaimana eksperimen seperti ini dapat menanggapi konteks sosial-politik yang ada.
Karya Lapdiang A. Syiem dengan judul Laitïam merupakan eksplorasi terhadap narasi rakyat Khasi “U Sier Lapalang”, sebuah cerita mengenai seekor rusa jantan dari dataran yang kini kita kenal sebagai Bangladesh yang naik ke Perbukitan Khasi, tetapi malah ditangkap dan dibunuh oleh pemburu.
Induknya menyusul untuk mencari putranya dan menemukan jasadnya. Ratapan sang induk konon merupakan bunyi yang mengajari masyarakat Khasi cara berduka dan berkabung.
Artikel Terkait
Pertunjukan SIKAP, Kolaborasi Tari Kontemporer Indonesia-Prancis
Sa’di Shirazi, Sastrawan Persia yang Menginspirasi Victor Hugo dan Goethe
Delegasi TWG II G20 Diajak Berlayar Menikmati Tari Bali di Atas Kapal Phinisi
Science Film Festival 2022 Ajak Pelajar Nonton Film Internasional Disertai Eksperimen Sains
Science Film Festival 2022 Dorong Generasi Muda Eksplorasi ‘Kesempatan yang Setara di Dunia Sains’